Gillian Dermawan 20170501007
Pemprosesan informasi oleh konsumen dilakukan dalam delapan tahap yang saling berkaitan. Jelaskan dan berikan contoh 8 tahap tersebut. (modul).
1. 1. Exposure terhadap informasi
Memperoleh exposure adalah suatu
keharusan namun tidak cukup untuk mencapai keberhasilan komunikasi. Mengekspos
konsumen kepada pesan suatu merek merupakan fungsi dari keputusan manajerial
utama mengenai besarnya anggaran,dan pilihan media dan alat untuk menyampaikan
pesan tersebut. Contoh : Produk “Minyak Kelapa Sawit Tropicana Slim”
mengadakan program sampling produk di pusat perbelanjaan, seperti Giant dan
Hypermart. Dalam kegiatan sampling ini, pihak Tropicana Slim memberikan contoh
produk serta informasi yang selengkap mungkin kepada konsumen yang mendatangi
tempat tersebut. Selain itu, pihak Tropicana Slim juga mengunjungi kantor-kantor
untuk mempromosikan produk minyak kelapa sawitnya.
2. 2. Atensi yang selektif
Atensi berarti fokus kepada dan mempertimbangkan pesan yang telah diekspos
seseorang. Karenanya atensi menjadi amat selektif. Selektivitas diperlukan
karena kapasitas pemprosesan informasi terbatas dan utilisasi efektif dari
kapasitas ini membutuhkan alokasi energi mental dari konsumen kepada
pesan-pesan yangrelevan dan sesuai dengan current goal.
3. 3. Pemahaman mengenai informasi yang disampaikan
Pemahaman merupakan salah satu dari
subyek-subyek yang paling penting dalam komunikasi pemasara. Proses perceptual dalam menginterpretasikan
stimulus dikenal dengan istilah perceptual
encoding. Proses
ini terdiri dari dua tahap utama. Feature
analysis merupakan tahap awal dimana penerima pesan melihat ciri dasar dari
stimulus danmembuat klarifikasi pendahuluan. Tahap kedua yaitu active
synthesis, tidak hanyamelakukan pemeriksaan terhadap ciri-ciri fisik.
Interpretasi dihasilkan dari usaha mengkombinasikan ciri-ciri stimulus dengan
ekspektasi yang semestinya sesuai dengan konteks yang diinginkan.Ekspetasi,
kebutuhan, sifat, pengalaman masa lalu, dan sikap terhadap obyek stimulus,
memaikan peran penting dalam menentukan persepsi konsumen.
4. 4. Menyetujui
Apa yang Dipahami
Kosumen tidak hanya memahami sebuah pesan, tetapi juga menyetujui
pesantersebut ( tidak menolak, atau melawan ). Persetujuan bergantung apakah
pesan tersebut dapat dipercaya atau mengandung informasi dan daya tarik yang
sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap penting oleh konsumen.
5. 5. Penyimpanan dan Pencarian/Pemanggilan Kembali
Informasi yang Tersimpan
Dari perspektif Komunikasi Pemasaran, memori
dilibatkan berbagai masalah yang dapat diingat konsumen ( recognize dan recall )
mengenai stimulus pemasaran, dan bagaimana mengakses dan memanggil kembali
( retrieve ) informasi tersebut ketika sedang membuat pilihan
membuat untuk mengkonsumsi. Subyek mengenai memori tidak terpisahkan dari
proses pembelajaran ( learning ), karenanya paragraf berikut
akan terlebih dulu membahas dasar - dasar memori, kemudian menelaah dasar
pembelajaran dan terakhir, menekankan kepada aplikasi praktis dari prinsip -
prinsip memori dan pembelajaran dalam Komunikasi Pemasaran.
1. 6. Menentukan
Pilihan di antara Altenatif yang Ada
Ketika berpikir untuk membeli sebuah produk
kategori tertentu, bagaimana seorang konsumen memutuskan merek mana yang akan
dipilihnya ? Jawaban yang sederhana adalah bahwa ia akan memilih merek “
terbaik ”. Namun tidak selalu jelas mana yang merupakan merek yang terbaik,
khususnya yang mengingat bahwa konsumen umumnya menyimpan, dalam memori jangka
panjang mereka, berbagai informasi mengenai setiap merek yang masuk dalam
daftar pertimbangan mereka.
Konsumen sering menggunakan strategi
penyederhanaan, disebut heuristic, untuk sampai pada keputusan yang setidaknya
memuaskan jika tidak dapat dikatakan sempurna. Bentuk paling sederhana dari
semua keputusan heuristic adalah affect referal. Dengan strategi ini individu
dengan mudah dapat “ memanggil ” dari memorinya sikap atau pengaruh tertentu
mengenai alternatif yang ada dan memilih alternatif yang pengaruhnya paling
positif. Secara umum, jenis strategi ini biasa digunakan untuk produk - produk
yang sering dibeli, di mana resiko pembeliannya minimum. Produk - produk
semacam itu umumnya dikategorikan sebagai low
- involvement purchaces.
2. 7. Bertindak
Berdasarkan Keputusan yang telah Diambil
Perilaku konsumen dalam menentukan pilihan
sepertinya terlihat sederhana dan pasti. Namun, sebenarnya tidak demikian.
Orang tidak selalu berperilaku konsistem sesuai dengan preferensinya. Alas an
utama dari hal ini adalah adanya presence of event atau factor situasional yang
mengganggu, menghalangi, atau bahkan mencegah seseorang menuruti keinginannya.